Pricio

ARPU Indosat Naik 16,5 Persen, Paket Internetmu Ikut Makin Mahal?

OlehRedaksi Pricio

ARPU Indosat Naik 16,5 Persen, Paket Internetmu Ikut Makin Mahal?

Kalau belakangan kamu merasa uang jajan cepat habis untuk paket internet, angkanya mendukung perasaan itu. Indosat mencatat rata-rata pendapatan per pelanggan seluler atau ARPU naik 16,5 persen dibanding tahun lalu, dari Rp39.000 menjadi Rp46.000 per bulan.

Angka itu ada di laporan keuangan perusahaan per 30 September 2026. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Indosat membukukan pendapatan Rp45,75 triliun atau tumbuh 11,15 persen secara tahunan. Laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp4,92 triliun, naik 37,2 persen.

ARPU itu apa, dan kenapa kamu perlu peduli

ARPU adalah rata-rata uang yang dibelanjakan satu pelanggan per bulan. Angka Rp46.000 bukan tagihanmu, tapi arah harga di pasar. Kalau ARPU naik, artinya secara rata-rata pelanggan membeli paket yang lebih besar atau lebih mahal dibanding setahun sebelumnya.

Selisih Rp7.000 per bulan terdengar kecil. Dalam setahun jadi Rp84.000. Kalau kamu memegang dua nomor aktif, selisihnya dua kali lipat. Uang sebesar itu setara satu-dua paket bulanan yang sebenarnya bisa kamu tahan.

Tiga angka yang menjelaskan kenaikan itu

Pertama, jumlah pelanggan seluler Indosat 91,5 juta per September 2026. Kedua, trafik data tumbuh 16 persen menjadi 14.829 petabyte. Ketiga, pendapatan segmen seluler Rp37,85 triliun, naik 9,5 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Bandingkan dua angka terakhir. Pemakaian data naik 16 persen, tapi uang yang masuk dari segmen seluler hanya naik 9,5 persen. Artinya tambahan pemakaian lebih cepat daripada tambahan pembayaran, dan harga per gigabyte sebenarnya sedang tertekan turun.

Kalau dihitung kasar dari angka laporan, trafik 14.829 petabyte dibagi 91,5 juta pelanggan setara sekitar 162 gigabyte per pelanggan selama sembilan bulan, atau kira-kira 18 gigabyte per bulan. Dengan ARPU Rp46.000, harga per gigabyte yang kamu bayar sekitar Rp2.500. Ini bukan tarif resmi paket mana pun, hanya rata-rata industri dari data keuangan.

Kenapa tagihan tetap naik walau harga per GB turun

Di sinilah jebakannya. Harga per gigabyte makin murah, tapi kamu membeli gigabyte jauh lebih banyak. Video vertikal, streaming resolusi tinggi, dan aplikasi yang terus menyinkronkan data membuat pemakaian membengkak tanpa terasa.

Hasilnya, tagihan bulanan bisa naik meski tarif per GB turun. Operator menyebutnya pertumbuhan pemakaian, pelanggan menyebutnya kuota cepat habis.

Ada faktor lain yang ikut menaikkan ARPU. Indosat menyebut strategi personalisasi layanan berbasis AI, peningkatan kualitas jaringan, dan optimalisasi 5G sebagai pengungkit bisnis inti. Perusahaan juga mencatat pendapatan AI Cloud 50 juta dolar AS hingga September 2026 dan menargetkan 100 juta dolar AS sampai akhir tahun.

Apa yang bisa kamu lakukan sekarang

Pertama, buka laporan pemakaian data di aplikasi operator dan lihat rata-rata tiga bulan terakhir. Angka itu lebih jujur daripada perkiraan.

Kedua, hitung harga per GB setiap paket yang kamu pertimbangkan, bukan hanya harga totalnya. Paket Rp50.000 untuk 10 GB berarti Rp5.000 per GB, jauh lebih mahal daripada paket Rp70.000 untuk 25 GB yang setara Rp2.800 per GB.

Ketiga, prioritaskan paket dengan mekanisme akumulasi kuota. Regulasi terbaru mewajibkan operator menyediakan pilihan yang membuat sisa kuota tidak hangus.

Keempat, matikan pembaruan aplikasi otomatis lewat data seluler. Satu pembaruan game bisa menghabiskan beberapa gigabyte dalam sekali unduh.

Baca Juga

Kuota Internet Tidak Boleh Hangus Lagi, Ini Aturan Barunya

Kenaikan ARPU bukan bencana, tapi sinyal. Selama kamu tahu berapa gigabyte yang benar-benar terpakai dan berapa yang kamu bayar per gigabyte, kenaikan rata-rata industri tidak harus ikut mengerek tagihanmu.

Redaksi PricioAuthor

Redaksi Pricio

Content Writer

Penulis spesialis gadget & IT yang menguji smartphone dan teknologi terkini. Menganalisis performa, spesifikasi, dan value produk secara objektif dengan bahasa mudah dipahami. Selalu update tren industri untuk konten kredibel dan edukatif pecinta tech. Aktif membagikan review mendalam di Instagram dan media tech nasional.

Selengkapnya

Related Article