HP Menarik yang Tidak Dijual Resmi di Indonesia
OlehRedaksi Pricio

HP yang Tidak Pernah Masuk Pasar Indonesia
Sejumlah ponsel dengan spesifikasi tinggi hanya beredar di China atau pasar global. Konsumen Indonesia kerap bertanya-tanya mengapa perangkat tersebut tidak dijual resmi.
Regulasi TKDN menjadi salah satu penghambat utama. Beberapa merek bahkan sudah memberikan sinyal masuk, tapi akhirnya batal.
OnePlus: Pernah Hadir, Lalu Pergi
OnePlus sempat hadir di Indonesia pada 2015. Perjalanannya tidak berlangsung lama.
Pabrikan yang satu naungan dengan Oppo dan Realme ini mengalami kendala pemenuhan TKDN. OnePlus 2 menjadi sorotan karena tidak jadi rilis akibat persoalan regulasi tersebut.
Pada 2023, akun resmi OnePlus Indonesia kembali aktif. Dua ponsel yang diyakini sebagai OnePlus 11 5G dan OnePlus Nord 3 telah mengantongi sertifikasi TKDN sebesar 35,95 persen dan 36,65 persen.
Namun keduanya batal meluncur. Pada Juni 2023, OnePlus mengakui adanya penundaan. Hingga kini mereka belum menjadi pemain resmi di pasar dalam negeri.
Padahal OnePlus dikenal sebagai "flagship killer". OxygenOS-nya dinilai ringan dan minim bloatware. Fitur Alert Slider untuk mengganti mode ring, vibrate, dan silent juga menjadi ciri khasnya. Komunitas OnePlus di Indonesia masih kuat sampai sekarang.
Baca Juga
Kapasitas Baterai OnePlus Ace 6 Ultra Bocor: 8.500 mAh!
Oppo K Series: Performa Tinggi, Harga Bersahabat
Oppo Indonesia lebih fokus pada ponsel kamera. Padahal Oppo punya lini K series di China dan India.
Ambil contoh Oppo K13 Turbo Pro. Ponsel ini memakai Snapdragon 8s Gen 4, baterai 7.000 mAh, dan kipas pendingin internal. Harganya 37.999 rupee atau sekitar Rp 7 juta.
Karakter seri ini sebenarnya cocok untuk pasar Tanah Air. Performanya tinggi, harganya di bawah flagship. Namun Oppo tidak menghadirkan seri ini secara resmi.
Redmi K Series: Rebranding sebagai Poco
Redmi K series juga tidak dijual di Indonesia dengan nama aslinya. Padahal lini ini dikenal dengan rasio price-to-performance yang tinggi.
Redmi K series umumnya membawa chipset kelas atas, layar berkualitas, dan kamera mumpuni. Harganya lebih kompetitif dibanding flagship konvensional.
Untungnya, beberapa model mengalami rebranding. Redmi K90 menjadi Poco F8 Pro, Redmi K90 Pro Max menjadi Poco F8 Ultra, Redmi K90 menjadi Poco F7 Pro, dan Redmi K80 Pro menjadi Poco F7 Ultra.
Yang terbaru, Redmi K100 Pro dan K100 Pro Max disebut-sebut akan hadir sebagai Poco F9 Pro dan F9 Ultra — ini masih rumor dan belum dikonfirmasi. Strategi ini membuat konsumen Indonesia menikmati teknologi Redmi K series, tapi bukan dalam bentuk aslinya.
iQoo 15: Snapdragon 8 Elite Pertama yang Terjangkau
iQoo 15 versi standar menjadi HP pertama dengan Snapdragon 8 Elite. Harganya termasuk salah satu yang termurah di kelasnya. Perangkat ini tidak dijual resmi di Indonesia.
Belum ada data independen yang memverifikasi klaim performa tersebut. iQoo juga belum memberi pernyataan resmi mengenai kemungkinan masuk ke pasar Indonesia. Kehadirannya masih sekadar spekulasi.
Regulasi TKDN Jadi Penentu Utama
TKDN atau Tingkat Komponen Dalam Negeri menjadi syarat utama ponsel bisa dijual resmi di Indonesia. Merek yang tidak memenuhi kewajiban ini otomatis absen dari pasar.
Beberapa ponsel yang sudah lolos sertifikasi pun masih bisa batal rilis, seperti yang terjadi pada OnePlus. Alasan penundaan tidak pernah dijelaskan secara detail.
Selama regulasi belum berubah, daftar HP menarik yang tidak dijual di Indonesia kemungkinan akan terus bertambah. Konsumen hanya bisa menunggu atau membeli melalui jalur impor dengan risiko tersendiri.
AuthorRedaksi Pricio
Content Writer
Penulis spesialis gadget & IT yang menguji smartphone dan teknologi terkini. Menganalisis performa, spesifikasi, dan value produk secara objektif dengan bahasa mudah dipahami. Selalu update tren industri untuk konten kredibel dan edukatif pecinta tech. Aktif membagikan review mendalam di Instagram dan media tech nasional.
Selengkapnya



