Booming AI Ancam HP Murah, Harga Memori Meroket
OlehAnnisa

Booming AI mendorong harga memori naik
Kelangkaan RAM dipicu oleh booming AI. Perusahaan layanan AI memborong komponen memori untuk data center. Akibatnya, harga RAM naik. Pabrikan smartphone pun ikut menaikkan harga jual.
Data dari Omdia menunjukkan tren mengkhawatirkan. Smartphone dengan harga terjangkau terancam punah. Proyeksi Omdia: penurunan shipment sebesar 22 persen untuk ponsel di bawah 400 dolar AS (Rp 7,2 juta).
Data Omdia menunjukkan lonjakan biaya produksi
Pada kuartal-III 2025, komponen memori menyumbang 32 persen dari total biaya produksi (BOM) ponsel dengan harga jual 200-400 dolar AS. Pada kuartal-I 2026, angkanya meroket menjadi 59 persen.
Di segmen lebih rendah, situasi serupa terjadi. Untuk ponsel entry-level 100-200 dolar AS, memori kini memakan 59 persen ongkos produksi. Untuk HP Rp 1 jutaan (di bawah 99 dolar AS), biaya memori mencapai 64 persen dari total BOM. Memori kini jadi komponen termahal di segmen Rp 1 juta hingga Rp 7 juta.
Dampak pada segmen ponsel murah
Principal Analyst Omdia, Zaker Li, mengatakan situasi memori bagi pabrikan akan terus memburuk. Harga diprediksi merambat naik tanpa henti. Pabrikan seperti Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi diperkirakan akan menaikkan harga produk, terutama di segmen bawah.
Beberapa brand mungkin meninggalkan pasar low-end. Mereka akan menghindari segmen di bawah 400 dolar AS. Fokus beralih ke produk lebih mahal. Di papan atas, vendor memiliki ruang lebih besar untuk menekan harga karena tidak didominasi biaya memori. Omdia memproyeksikan pasar HP di atas 400 dolar AS tumbuh 5,7 persen pada 2026.
Baca Juga
Harga HP Bekas Ikut Melambung, Bukan Cuma HP Baru yang Mahal
Strategi vendor: naikkan harga atau turunkan spesifikasi
Di segmen harga tinggi, ada kemungkinan penyesuaian spesifikasi. Misalnya, panel layar diubah dari LTPO OLED menjadi LTPS OLED. Kamera bisa diganti sensor yang lebih kecil atau dikurangi jumlahnya. Chipset lawas juga bisa dipakai untuk memangkas ongkos.
Proyeksi ini masih bersifat prediktif. Realitanya harus dilihat nanti. Satu hal yang jelas: konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk ponsel baru tahun ini dan seterusnya.
Catatan: proyeksi masih bersifat prediktif
Belum ada data independen yang memverifikasi proyeksi Omdia tersebut. Namun, tren kenaikan harga memori sudah terlihat di pasar. Pabrikan pun sudah mulai menyesuaikan strategi. Konsumen mungkin perlu menunda pembelian atau mempertimbangkan opsi refurbished.
AuthorAnnisa
Content Writer
Penulis spesialis gadget & IT yang menguji smartphone dan teknologi terkini. Menganalisis performa, spesifikasi, dan value produk secara objektif dengan bahasa mudah dipahami. Selalu update tren industri untuk konten kredibel dan edukatif pecinta tech. Aktif membagikan review mendalam di Instagram dan media tech nasional.
Selengkapnya

